Silakan klik salah satu tombol pilar di panel sebelah kiri untuk memuat visualisasi aura, elemen pernapasan, serta dokumen latar belakang cerita mendalam mereka secara dinamis berdasarkan urutan peringkat kekuatan.
*Catatan: Setiap karakter memiliki representasi warna aura unik yang berbeda saat diaktifkan.*
Inilah kisah tentang Tanjiro Kamado, seorang pemuda berhati tulus yang hidupnya hancur dalam semalam. Di tengah sunyinya musim dingin dan hamparan salju yang putih, takdir membawa sebilah belati kejam ke dalam hidupnya. Bau anyir darah menyengat udara saat Tanjiro mendapati seluruh keluarganya telah dibantai tanpa ampun oleh Raja Iblis, Muzan Kibutsuji.
Satu-satunya yang tersisa hanyalah adiknya, Nezuko. Namun, tubuh Nezuko telah mendingin, taringnya memanjang, dan matanya menatap penuh rasa lapar yang liar. Ia telah menjelma menjadi iblis. Di tengah badai salju dan keputusasaan yang mengekcekik, sebuah sumpah mati lahir dari lubuk hati Tanjiro: ia akan membawa adiknya kembali menjadi manusia, dan ia akan menebas leher mahluk yang bertanggung jawab atas tragedi ini, seberapapun hancurnya tubuhnya nanti.
Dua tahun latihan neraka di bawah bimbingan Sakonji Urokodaki menempa jemari lembut Tanjiro menjadi sekeras baja. Setiap tetes keringat dan ayunan pedangnya adalah doa untuk kesembuhan Nezuko. Hingga akhirnya, dengan seragam hitam Korps Pembasmi Iblis dan jubah bermotif papan catur hijau-hitam, ia melangkah ke dalam kegelapan malam untuk memulai perburuannya.
Perjalanan ini tidak ia lalui sendirian. Takdir mempertemukannya dengan Zenitsu Agatsuma, pemuda penakut yang mampu membelah petir saat kehilangan kesadaran, serta Inosuke Hashibira, pemuda liar bertopeng babi hutan yang bertarung dengan insting binatang murni. Bersama-sama, mereka merangkak dari satu pertempuran maut ke pertempuran lainnya.
Tragedi kembali mengetuk pintu saat mereka ditugaskan di atas Kereta Api Mugen. Di sana, mereka berdiri di bawah bayang-bayang Kyojuro Rengoku, sang Flame Hashira yang karismatik dan hangat bagaikan matahari. Namun, kemunculan tiba-tiba Akaza, Iblis Bulan Atas Tiga, mengubah malam menjadi ladang pembantaian. Tanjiro dipaksa menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana dada Rengoku hancur tertembus tangan iblis. Sebelum fajar merenggut nyawanya, Rengoku membisikkan pesan terakhir yang membakar jiwa mereka:
"Busungkan dadamu. Teruslah melangkah maju, bahkan jika kamu terluka oleh kelemahanmu sendiri."
Setiap langkah berikutnya menuntut bayaran yang semakin mahal. Di bawah gemerlapnya Distrik Hiburan Yoshiwara, hingga kepulan asap di Desa Penempa Pedang, Tanjiro dan para pembasmi iblis dipaksa melampaui batas kemanusiaan mereka. Tulang-tulang patah, darah dimuntahkan, dan teknik legendaris Hinokami Kagura (Tarian Dewa Api) harus terus dikerahkan demi menumbangkan para Iblis Bulan Atas yang tak terkalahkan selama ratusan tahun.
Hingga di ujung malam yang paling melelahkan di Desa Penempa Pedang, sebuah keajaiban yang mustahil terjadi. Saat fajar menyingsing dan mulai membakar kulit Nezuko, sebuah pilihan kejam harus diambil. Namun, di luar dugaan, Nezuko justru berhasil menaklukkan sinar matahari. Kulitnya tidak hancur menjadi abu; ia berdiri tersenyum di bawah terik siang.
Kemenangan yang mengharukan ini seketika berubah menjadi lonceng kematian yang paling nyaring. Di sudut kegelapan yang pekat, Muzan Kibutsuji tertawa gila. Iblis yang telah hidup seribu tahun itu kini tahu, mahluk yang ia butuhkan untuk mencapai keabadian sempurna berada di depan mata. Perang total tidak bisa lagi dihindari.
Suasana berubah menjadi persiapan yang mencekam. Seluruh anggota Korps Pembasmi Iblis, dari prajurit terendah hingga para Hashira, melebur dalam latihan masif yang menguras raga. Atmosfer begitu berat, seolah semua orang tahu bahwa malam yang akan datang adalah malam terakhir bagi sebagian besar dari mereka.
Dan malam itu benar-benar datang tanpa peringatan. Muzan menyusup langsung ke jantung Korps, memicu ledakan dahsyat yang menghancurkan kediaman pemimpin mereka, Kagaya Ubuyashiki. Perang terbuka resmi pecah.
Klank!
Suara petikan senar biwa menggema, memutarbalikkan gravitasi dan meruntuhkan realitas. Lantai di bawah kaki para pembasmi iblis runtuh. Tanjiro, Zenitsu, Inosuke, dan seluruh Hashira terlempar jatuh ke dalam labirin tak berujung yang mengerikan: Infinity Castle (Kastil Tak Terbatas).
Di sekeliling mereka, ruangan berputar, dinding-dinding bergeser, dan aura membunuh dari para Iblis Bulan Atas terkuat mengepung dari segala penjuru. Di dasar kastil itu, Muzan menunggu dengan tatapan sedingin es, siap melumat habis seluruh umat manusia yang tersisa.
Kini, seluruh harapan manusia berada di ujung bilah pedang yang retak. Terjebak di dalam labirin ilusi yang mematikan, terpisah satu sama lain, dan dikepung oleh iblis-iblis paling haus darah dalam sejarah...
Akanya tebasan pedang Tanjiro dan pengorbanan para Hashira mampu menjangkau leher sang Raja Iblis sebelum fajar tiba, ataukah Kastil Tak Terbatas ini akan menjadi kuburan massal bagi seluruh harapan manusia yang tersisa?
Jauh sebelum Korps Pembasmi Iblis dibentuk, sebuah tragedi besar menimpa garis keturunan keluarga Ubuyashiki. Ribuan tahun yang lalu, dari rahim keluarga inilah lahir sesosok monster yang akan membawa petaka bagi umat manusia: Muzan Kibutsuji. Sebagai hukuman karmik karena telah melahirkan iblis pertama ke dunia, alam semesta mengutuk seluruh keturunan klan Ubuyashiki.
Setiap anak yang lahir dalam keluarga ini membawa penyakit bawaan yang aneh dan mematikan. Bayi-bayi mereka sering kali meninggal tak lama setelah dilahirkan. Untuk menyelamatkan garis keturunan mereka dari kepunahan total, para pendeta memberi petunjuk mutlak: mereka harus mendedikasikan seluruh sisa hidup dan keturunan mereka untuk memburu serta memusnahkan Muzan Kibutsuji.
Sebagai bentuk penebusan dosa darah tersebut, klan Ubuyashiki menggunakan kekayaan dan pengaruh rahasia mereka untuk mendirikan dan mendanai penuh Demon Slayer Corps (Korps Pembasmi Iblis). Meskipun para pemimpin klan (yang dipanggil "Oyakata-sama") tidak memiliki kekuatan fisik untuk mengayunkan pedang, mereka dianugerahi intuisi masa depan yang sangat tajam untuk memimpin peperangan dari balik layar.
Bahkan dengan segala upaya mulia tersebut, kutukan darah itu tidak pernah benar-benar hilang. Para pria dari keluarga Ubuyashiki dikutuk untuk tidak akan pernah bisa hidup melewati usia 30 tahun. Tubuh mereka akan membusuk secara perlahan seiring berjalannya waktu, membuat mereka kehilangan penglihatan dan kemampuan bergerak.
Kagaya Ubuyashiki, pemimpin ke-97 dari Korps Pembasmi Iblis, memikul beban ini dengan senyuman dan kelembutan luar biasa. Ia menganggap setiap anggota korps sebagai "anak-anaknya" yang berharga dan selalu mengingat setiap nama pedang yang telah patah di medan perang. Di bawah kepemimpinannya lah, takdir manusia dan iblis pada akhirnya akan mencapai titik darah penghabisan yang paling menentukan dalam sejarah.